Ejaan Bahasa Indonesia

BAB I
EJAAN BAHASA INDONESIA

1.1 Pendahuluan
Ejaan adalah Seperangkat aturan atau kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisannya dalam suatu bahasa. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata. Sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD mulai diberlakukan tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan yang ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (pada tahun 1947).
Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan Van Ophuijsen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.
Perubahan pemakaian huruf dalam tiga ejaan bahasa Indonesia sebagai berikut:
EJAAN
VAN OPHUIJSEN
(1901-1947) EJAAN REPUBLIK
(EJAAN SOEWANDI)
(1947-1972) AJAAN YANG DI-
SEMPURNAKAN (EYD)
(mulai 16 Agustus 1972)
Choesoes
Djoem’at
Ja’ni
Soenji Chusus
Djum’at
Jakni
Sunji Khusus
Jumat
Yakni
Sunyi

1.2 Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan
Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu:
1.2.1 Pemakaian Huruf
Pemakaian huruf membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu :
a. Abjad
Abjad yang digunakan dalam bahasa Indonesia terdiri dari 26 huruf, yaitu :
Huruf Dibaca Huruf Dibaca Huruf Dibaca
A a
B b
C c
D d
E e
F f
G g
H h
I i
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i J j
K k
L l
M m
N n
O o
P p
Q q
R r je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er S s
T t
U u
V v
W w
X x
Y y
Z z es
te
u
ve
we
eks
ye
zet

b. Vokal
Huruf dalam bahasa Indonesia yang melambangkan vokal ada lima huruf yaitu a, i, u, e, dan o. Selain itu juga dalam bahasa indonesia ada pula penggabungan dua vokal (diftong). Diftong terjadi jika dua vokal yang beruntun harus dalam satu suku kata menciptakan bunyi luncuran (bunyi yang berubah kualitasnya) yang berbeda dengan lafal bunyi aslinya. Perhatikan lafal diftong di bawah ini:
Diftong /ai/ dalam kata
Bantai dilafalkan [bantay]
Pandai dilafalkan [panday]
Santai dilafalkan [santay]
Diftong /au/ dalam kata
Kacau dilafalkan [kacaw]
Kerbau dilafalkan [kerbaw]
Limau dilafalkan [limaw]
Silau dilafalkan [silaw]
Diftong /oi/ dalam kata
Amboi dilafalkan [amboy]
Boikot dilafalkan [boykot]
Sepoi dilafalkan [sepoy]
Toilet dilafalkan [toylet]

Jika vokal beruntun /ai/, /au/, dan /oi/ terdapat dalam kata yang pelafalannya persisi sama dengan lafal huruf aslinya, vokal beruntun itu bukan diftong. Contoh /ai/, /au/, dan /oi/ yang bukan diftong adalah sebagai berikut:
Mulai diucapkan [mulai]
Namai diucapkan [namai]
Bau diucapkan [bau]
Mau diucapkan [mau]
Doi diucapkan [doi] = duit.
Doi diucapkan [do’i] = pacar.

Dengan berpedoman pada EYD, khususnya cara pelafalan huruf yang benar, setiap penutur bahasa Indonesia hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan. Dalam membaca singkatan kata (termasuk singkatan kata asing selain akronim) yang dibaca huruf demi huruf, pelafalannya harus sesuai dengan pelafalan huruf bahasa Indonesia jika penutur sedang berbahasa Indonesia.
Singkatan Dibaca Bukan Dibaca
AC
BBC
CIA
FBI
IMF
RCTI
TV
MTQ a-ce
be-be-ce
ce-i-a
ef-be-i
i-em-ef
er-ce-te-i
te-fe
em-te-ki a-se
bi-bi-si
si-ai-e
ef-bi-ai
ai-em-ef
er-se-te-i
ti-fi
em-te-kyu

c. Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan terdiri dari 21 huruf yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Dalam bahasa Indonesia juga digunakan gabungan konsonan (diagraf) sebanyak empat pasang yaitu :
Kh seperti dalam kata Khusus, akhir.
Ng seperti dalam kata ngilu, bangun
Ny seperti dalam kata nyata, anyam
Sy seperti dalam kata syair, asyik.
Setiap pasangan itu menghasilkan satu fonem atau satu bunyi. Karena itu, kh, ng, ny, sy, masing-masing dihitung sebagai satu konsonan.
Contoh:
Akhir = v k v k Ngilu = k v k v
Anyam = v k v k Syair = k v v k

d. Pemenggalan
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:
a. Jika ditengah kata ada huruf vokal yang beruntun, pemenggalannya dilakukan di antara kedua kata vokal itu.
Misalnya:
Di-a Do-a Ta-at
Hati-hati jika vokal yang beruntun merupakan diftong, pemenggalannya tidak dilakukan di antara kedua huruf vokal. Misalnya:
Pemenggalan yang salah Pemenggalan yang benar
Pu-la-u
Ra-ma-i
Se-po-i Pu-lau
Ra-mai
Se-poi

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan itu. Misalnya:
Ta-bu Ka-wan Ca-tur

c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang beruntun, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Misalnya:
Ap-ril Swas-ta Han-dal
Gabungan huruf konsonan ng, ny, kh, dan sy tidak boleh dipisahkan. Misalnya:
Ha-ngat Su-nyi
Makh-luk Ma-sya-ra-kat

d. Jika di tengah kata ada tiga buah atau lebih huruf konsonan, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Misalnya:
Ab-sorb-si Kon-klu-si Ins-truk-si

2. Imbuhan yang berupa awalan dan akhiran, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata yang diimbuhinya, dapat dipenggal. Misalnya :
Bacalah dipenggal menjadi ba-ca-lah
Melarikan dipenggal menjadi me-la-ri-kan
Prasarana dipenggal menjadi pra-sa-ra-na

3. Jika satu kata terdiri atas lebih dari satu unsur ddan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dapat dilakukan diantara unsur-unsur itu atau pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah pemenggalan kata diantara unsur-unsur tersebut.
Misalnya:
Bio-data atau bio-da-ta
Intro-speksi atau in-tro-spek-si

4. Khusus untuk kata yang mengandung sisipan, (-el-, -er-, -em-, -in-), pemenggalannya dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Mempertahankan sisipan dalam satu suku kata sehingga sisipan tidak terpenggal (anggapan dasarnya adalah kata bersisipan sebagai kaia turunan sehingga bersifat polimorfemis);
b. Tidak mempertahankan sisipan dalam satu suku kata (anggapan dasarnya adalah kata yang bersisipan bersifat monomorfemis karena sudah membantu dan sisipan sebagai pembentuk kata sudah tidak produktif lagi). Perhatikan pemenggalan kata bersisipan berikut ini:
Kata Dasar Kata Turunan Pemenggalan (a) Pemenggalan (b)
Tunjuk
Getar
Gigi
Sambung Telunjuk
Gemetar
Gerigi
Sinambung Telun-juk
Geme-tar
Geri-gi
Sinam-bung
Te-lun-juk
Ge-me-tar
Ge-ri-gi
Si-nam-bung

e. Nama Diri
Cara penulisan nama diri (nama orang, lembaga, tempat, jalan, sungai, gunung, dan nama diri lainnya) harus mengikuti EYD, kecuali jika ada pertimbangan khusus yang menyangkut segi adat, hukum, atau sejarah.
Contoh pemakaian biasa:
Rumahnya di Jalan Padjajaran No. 5.
Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.
Contoh pemakaian dengan pertimbangan khusus:
Ayahku dosen Universitas Padjajaran, Bandung.
Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908.
Khusus tentang pemakaian huruf x berlaku ketentuan sebagai berikut:
1. Untuk penulisan nama unsur kimia, istilah ilmu pengetahuan, dan lambang dalam matematika, lambang huruf yang dipakai adalah x.
Misalnya:
Xenon, Xantat (nama unsur kimia)
Sinar-X (istilah ilmu pengetahuan)
x1, x2,√x (lambang dalam matematika).

2. Untuk penulisan kata-kata biasa yang bukan diri, lambang huruf yang dipakai adalah ks. Perhatikan contoh berikut ini:
Penulisan yang salah Penulisan yang benar
Export
Extra
Complex
Taxi
telex Ekspor
Ekstra
Kompleks
Taksi
teleks

Selain ketentuan di atas, khusus untuk penulisan nama orang, berlaku ketentuan berikut. Nama yang ditulis dengan ejaan lama (ejaan van Ophuijsen dan ejaan Republik), penulisannya harus mengikuti kebiasaan yang empunya nama. Dewasa ini banyak orang yang pada waktu diberlakukannya EYD tetap menulis namanya dengan ejaan lama (sebagai bukti sejarah atau pertimbangan lainnya), dan orang lain harus menghormati hak asasi setiap individu, termasuk dalam penulisan nama seperti contoh dibawah ini:
Ejaan Van Ophuijsen Ejaan Republik Ejaan Yang Di-sempurnakan (EYD)
Soehardjo
Bagdja Waloeja Djati
Nji Ajoe Soenji Suhardjo
Bagdja Waluja Djati
Nji Aju Sunji Suharjo
Bagja Waluya Jati
Nyi Ayu Sunyi

1.2.2 Penulisan Huruf
Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi :
a. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya:
Kami menggunakan barang produksi dalam negeri.
Siapa yang datang tadi malam?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita ke Taman Safari?”
Bapak menasehatkan, “Jaga dirimu baik-baik, Nak!”

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:
Allah Alkitab
Islam Weda
Kristen Injil
Yang Maha Kuasa Quran
Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehoematan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:
Haji Agus Salim Nabi Ibrahim
Imam Syafei Raden Wijaya

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Gubernur Bali
Profesor Yudi Suprayogi Hamdan Mentri Pertanian
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya:
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
Kapten Amir telah naik pangkat menjadi mayor.
Keponakanku bercita-cita menjadi pilot.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:
Albar Maulana
Muhammad Rayhan Yudi Suprayogi Hamdan
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. Misalnya:
Mesin diesel 2 ampere
10 watt 5 volt

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Perlu diingat, pada posisi tengah kalimat, yang dituliskan dengan huruf kapital hanya huruf pertama nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa; sedangkan huruf pertama kata bangsa, suku, dan bahasa dituliskan dengan huruf kecil. Misalnya:
Penulisan yang salah Penulisan yang benar
Dalam hal ini Bangsa Indonesia yang…
…tempat bermukin Suku Melayu sejak…
…memakai Bahasa Spanyol sebagai… Dalam hal ini bangsa Indonesia yang…
…tempat bermukim suku Melayu sejak…
…memakai bahasa Spanyol sebagai…

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya:
Keinggris-inggrisan
menjawakan bahasa Indonesia

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari-hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya:
tahun Saka hari Jumat
bulan Mei perang Diponegoro
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya:
Ir. Soekarno dan Drs. Moehammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Perlombaan persenjataan nuklir membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nam khas dalam geografi. Misalnya:
Salah Benar
teluk Jakarta
gunung Semeru
selat Sunda
danau Toba Teluk Jakarta
Gunung Semeru
Danau toba
Selat sunda

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya:
Jangan membuang sampah ke sungai.
Mereka mendaki gunung yang tinggi.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis. Misalnya:
garam inggris
gula jawa
soto madura

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, nama resmi badan/lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi. Misalnya:
Departemen Pendidikan Nasional RI.
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Undang-Undang Dasar 1945.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Misalnya:
Dia menjadi pegawai di salah satu departemen.
Menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga. Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, dalam, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya:
Idrus menulis buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia agen surat kabar Suara Pembaharuan.

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Nining.
Para ibu mengunjungi Ibu Febiola.
Surat Saudara sudah saya terima.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuik hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan. Misalnya:
Kita semua harus menghormati ibu dan bapak kita.
Semua kaka dan adik saya sudah berkeluarga.

14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya:
Dr. : doktor
M.M. : magister manajemen
Jend. : jenderal
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Apakah kegemaran Anda?
Usulan Anda telah kami terima.

b. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan. Misalnya:
Majalah Prisma
Tabloid Nova
Surat kabar Kompas

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Misalnya:
Dia bukan menipu, melainkan ditipu.
Bab ini tidak membicarakan tentang penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berpangku tangan.

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya:
Nama ilmiah pada kata Oriza sativa.
Politik devide et impera telah merajai di benua hitam itu.
Akan tetapi, Perhatikan penulisan berikut:
Negara ini telah mengalami beberapa kali kudeta (dari coup d’etat).

1.2.3 Penulisan Kata
Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa :
a. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya:
Kantor pos sangat ramai.
Buku itu sudah saya baca.
Adik naik sepeda baru

b. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya:
bergerigi mempertanyakan
gemetar sentuhan
ketetapan terhapus

2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya:
diberi tahu, beri tahukan
bertanda tangan, tanda tangani.
Berlipat ganda, lipat gandakan.

3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata tersebut ditulis serangkai. Misalnya:
memberitahukan melipatgandakan.
ditandatangani pertanggungjawaban

4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya:
Adibusana antarkota biokimia
dasawarsa Inkonvensional multilateral
narapidana paripurna mahasiswa
mancanegara prasangka purnawirawan swadaya telepon transmigrasi ]
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, diantara kedua unsur kata itu dituliskan tanda hubung (-). Misalnya:
non-Asia.
neo-Nazi

c. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya:
anak-anak gerak-gerik lauk-pauk
buku-buku huru-hara porak-poranda
berjalan-jalan biri-biri dibesar-besarkan

d. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya:
duta besar kereta api luar biasa
kerja sama mata kuliah meja tulis
terima kasih orang tua rumah sakit

2. Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata. Misalnya:
acapkali apabila bagaimana
kacamata kilometer belasungkawa
saputangan daripada matahari

3. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan. Misalnya:
anak-istri saya (keluarga)
kaki-tangan penguasa (alat penguasa)
ibu-bapak (orang tua)

e. Kata Ganti kau, ku, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk singkatan kata aku dan engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan -ku, -mu dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:
Aku bawa → kubawa
Engkau bawa → kaubawa
Buku aku → bukuku
Buku kamu → bukumu
Buku dia → bukunya

f. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya:
Tinggallah bersama saya di sini.
Di mana orang tuamu?
Ia pantas tampil ke depan.
Yudi berasal dari Bogor.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini:
Kinerja Lely lebih baik daripada Lelo.
Akhir-akhir ini beliau jarang kemari.

g. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:
Salah Benar
Sikecil
Sipemalu
Sangdiktator
sangkancil Si kecil
Si pemalu
Sang diktator
Sang kancil

h. Partikel
1. Pertikel –lah, dan –kah ditulis dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:
Bacalah peraturan ini dengan baik.
Siapakah tokoh yang menemukan radio?

2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya:
Apa pun yang dikatakannya, aku tidak peduli.
Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku.
Bukan cuma saya, dia pun turut serta.
Catatan:
Kelompok yang dianggap padu berikut ini ditulis serangkai, misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, walaupun. Misalnya:
Adapun sebab-musababnya sampai sekarang belum diketahui.
Bagaimanapun juga aku akan terus mencobanya sampai berhasil.

3. Partikel per yang berarti ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya:
Mereka masuk ruangan satu per satu. (satu demi satu)
Harga kain itu Rp 20.000,00 per meter. (tiap meter)

i. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih. Adapun aturan penulisannya adalah sebagai berikut:
a. Setiap menyingkat satu kata dipakai satu tanda titik. Misalnya:
nomor disingkat no.
ibidem disingkat ibid.
halaman disingkat hal.
b. Bila menyingkat dua kata dipakai dua titik. Misalnya:
Atas nama disingkat a.n.
Opere citato disingkat op. cit.
Akan tetapi, singkatan nama diri yang diambil dari huruf awal kata yang disingkat, ditulis tanpa titik. Misalnya:
Perseroan Terbatas disingkat PT
Perusahaan Dagang disingkat PD
Amerika Serikat disingkat AS
c. Bila menyingkat tiga kata atau lebih, pada akhir singkatannya dipakai satu tanda titik. Misalnya:
dan kawan-kawan disimgkat dkk.
Yang akan datang disingkat yad.
Dan lain-lain disingkat dll.
Atas nama beliau disingkat anb.
Akan tetapi, singkatan nama diri yang terbentuk dari gabungan huruf awal kata yang disingkat, ditulis tanpa titik. Misalnya:
BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
DKI (Daerah Khusus Ibukota)
BPS (Badan Pusat Statistik)
d. Penulisan lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti titik. Misalnya:
Au aurum
TNT trinitrotoluen
Kg kilogram

2. Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata, gabungan suku kata, ataupun gabungan dan suku kata dari deret katayang disingkat. Akronim dibaca dan diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata yang disingkat, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya:
FISIF (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia)
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital dan tidak diakhiri oleh tanda titik. Misalnya:
Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
Kadin (Kamar Dagang dan Industri)
Sespa (Sekolah Staf dan Pemimpin Administrasi)
c. Akronim yang bukan nam diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf kacil dan tidak diakhiri dengan tanda titik. Misalnya:
radar radio detecting and ranging
rapin rapat pimpinan
rudal peluru kendali

j. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor. Dalam tulisan lazim diguinakan angka Arab atau angka Romawi. Misalnya:
Angka arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X
L (50), C (100), D (500), M (1000)

2. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, dan isi, satuan waktu, nilai uang, dan kuantitas. Misalnya:
19 meter 4 ons 9 hektar 43 liter
Pukul 19.00 10 detik 30 menit 3 jam
Rp 10.000,00 US$3.50 300 yen ¥300

3. Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya:
Jalan Sentosa III No. 152
Rumah Susun Perumnas Klender, Blok F4. No. 11
4. Angka digunakan juga untuk menomoribagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 333
Surat Al Baqarah: 4

5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan utuh. Misalnya:
dua belas 12
dua puluh dua 22
dua ratus dua puluh dua 222
b. Bilangan pecahan. Misalnya:
setengah ½ seperseratus 1/100
tiga perempat ¾ satu permil 10/00
seperenam belas 1/16 satu persen 1%
tiga dua pertiga 32/3

6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya:
Lihat Bab II, Pasal 5 dalam bab ke-2 buku itu;
Pada awal abad XX; pada abad ke-20 ini
Di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu
Di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu

7. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga susunan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya:
Lima puluh orang tewas akibat bencana banjir kemarin di jakarta.
Bukan: 50 orang rewas akibat bencana banjir kemarin di Jakarta.
Pak Malik Jamhar mengundang 500 orang tamu.
Bukan: 500 tamu diundang pak Malik Jamhar

8. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya:
Perusahan kami mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta orang.

9. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali di dalam sokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya:
Kami memiliki 20 unit komputer.
Bukan: Kami memiliki 20 (dua puluh) unit komputer.
Di lemari itu tersimpan 506 eksemplar majalah.
Bukan: Di lemari itu tersimpan 506 (lima ratus enam) eksemplar majalah.

10. penulisan lambang bilangan yang mendapatkan akhiran -an, mengikuti cara sebagai berikut. Misalnya:
Yudi mempunyai uang 5000-an.

1.2.4 Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
1. unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I’exploitation de l’homme par I’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
2. unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai berikut.
aa (Belanda) menjadi a
paal
baal
octaaf pal
bal
oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe
aerodinamics aerob
aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin
haematite hemoglobin
hematit
ai tetap ai
trailer
caisson trailer
kaison
au tetap au
audiogram
autotroph
tautomer
hydraulic
caustic audiogram
autotrof
tautomer
hidraulik
kaustik
c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel
construction
cubic
coup
classification
crystal kalomel
konstruksi
kubik
kup
klasifikasi
kristal
c di muka e, i, oe, dan y menjadi s
central
cent
cybernetics
circulation
cylinder
coelom sentral
sen
sibernetika
sirkulasi
silinder
selom
cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation
acculturation
acclimatization
accumulation
acclamation akomodasi
akulturasi
aklimatisasi
akumulasi
aklamasi
cc di muka e dan i menjadi ks
accent
accessoryv vaccine aksen
aksesori
vaksin
cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin
charisma
cholera
chromosome
technique sakarin
karisma
kolera
kromosom
teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon
machine eselon
mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
check
China cek
Cina
ç (Sanskerta) menjadi s
çabda
çastra sabda
sastra
e tetap e
effect
description
synthesis efek
deskripsi
sintesis
ea tetap ea
idealist
habeas idealis
habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer
systeem stratosfer
sistem
ei tetap ei
eicosane
eidetic
einsteinium eikosan
eidetik
einsteinium
eo tetap eo
stereo
geometry
zeolite stereo
geometri
zeolit
eu tetap eu
neutron
eugenol
europium neutron
eugenol
europium
f tetap f
fanatic
factor
fossil fanatik
faktor
fosil
gh menjadi g
sorghum sorgum

gue menjadi ge
igue
gigue ige
gige
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i
iambus
ion
iota iambus
ion
iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek
riem politik
rim
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety
patient
efficient varietas
pasien
efisien
kh (Arab) tetap kh
khusus
akhir khusus
akhir
ng tetap ng
contingent
congress
linguistics kontingen
kongres
linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e
oestrogen
oenology
foetus estrogen
enologi
fetus
oo (Belanda) menjadi o
cartoon
proof
pool kartun
pruf
pul
oo (vokal ganda) tetap oo
zoology
coordination zoologi
koordinasi
ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur
coupon
contour gubernur
kupon
kontur
ph menjadi f
phase
physiology
spectograph fase
fisiologi
spektograf
ps tetap ps
pseudo
psychiatry
psychosomatic pseudo
psikiatri
psikosomatik
pt tetap pt
pterosaur
pteridology
ptyalin pterosaur
pteridologi
ptialin
q menjadi k
aquarium
frequency
equator akuarium
frekuensi
ekuator
rh menjadi r
rhapsody
rhombus
rhythm
rhetoric rapsodi
rombus
ritme
retorika
sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium
scotapia
scutella
sclerosis
scriptie skandium
skotapia
skutela
sklerosis
skripsi
sc di muka e, i, dan y menjadi s
scenography
scintillation
scyphistoma senografi
sintilasi
sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk
schema
schizophrenia
scholasticism skema
skizofrenia
skolastisisme
t di muka i menjadi s jika lafalnya s
ratio
action
patient rasio
aksi
pasien
th menjadi t
theocracy
orthography
thiopental
thrombosis
methode teokrasi
ortografi
tiopental
trombosis
metode
u tetap u
unit
nucleolus
structure
institute unit
nukleolus
struktur
institut
ua tetap ua
dualisme
aquarium dualisme
akuarium
ue tetap ue
suede
duet sued
duet
ui tetap ui
equinox
conduite ekuinoks
konduite
uo tetap uo
fluorescein
quorum
quota fluoresein
kuorum
kuota
uu menjadi u
prematuur
vacuum prematur
vakum
v tetap v
vitamin
television
cavalry vitamin
televisi
kavaleri
x pada awal kata tetap x
xanthate
xenon
xylophone xantat
xenon
xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive
taxi
exudation
latex eksekutif
taksi
eksudasi
lateks
xc di muka e dan i menjadi ks
exception
excess
excision
excitation eksepsi
ekses
eksisi
eksitasi
xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation
excommunication
excursive
exclusive ekskavasi
ekskomunikasi
ekskursif
eksklusif
y tetap y jika lafalnya y
yakitori
yangonin
yen
yuan yakitori
yangonin
yen
yuan
y menjadi i jika lafalnya i
yttrium
dynamo
propyl
psychology itrium
dinamo
propil
psikologi
z tetap z
zenith
zirconium
zodiac
zygote zenith
zirkonium
zodiak
zigot
Akhiran asing
Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.
Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.
-aat (Belanda) menjadi -at
advokaat advokat
-age menjadi -ase
percentage
etalage persentase
etalase
-al, -eel (Belanda) menjadi -al
structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal struktural
formal
normal
-ant menjadi -an
accountant
informant akuntan
informan
-ary, -air (Belanda) menjadi -er
complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair komplementer
primer
sekunder
-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie
publication, publicatie aksi
publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el
ideëel
materieel
moreel ideel
materiel
morel
-ein tetap -ein
casein
protein kasein
protein
-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika
logic, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik
-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, electronisch
mechanic, mechanisch
ballistic, ballistisch elektronik
mekanik
balistik
-ical, -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch ekonomis
praktis
logis
-ile, iel menjadi -il
percentile, percentiel
mobile, mobiel

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme
modernism, modernisme
communism, communisme modernisme
komunisme
-ist menjadi -is
publicist
egoist publisis
egois
-ive, -ief (Belanda) menjadi -if
descriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief deskriptif
demonstratif
-logue menjadi -log
catalogue
dialogue katalog
dialog
-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie teknologi
fisiologi
analogi
-loog (Belanda) menjadi -log
analoog
epiloog analog
epilog
-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid
hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide hominoid
anthropoid
-oir(e) menjadi -oar
trottoir
repertoire trotoar
repertoar
-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur direktur
inspektur
amatir
formatur
-or tetap -or
dictator
corrector diktator
korektor
-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas
university, universiteit
quality, qualiteit universitas
kualitas
-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur
structure, struktuur
premature, prematuur struktur
prematur

1.2.5 Pemakaian Tanda Baca (pungtuasi)
Pemakaian tanda baca membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan dengan kaidahnya masing-masing. Tanda baca itu adalah :
a. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Hari ini tanggal 6 April 1973.
Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negri
A. Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jendral Agraria
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel

Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya:
pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD’45)
Salah Asuhan
8. Tanda titik tidak dipakai di belakang
(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)
Atau:
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)

b. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
• Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
• Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
• Satu, dua, … tiga!
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
• Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
• Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
• Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
• Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
• Dia tahu bahwa soal itu penting.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
• … Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
• … Jadi, soalnya tidak semudah itu.
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
• O, begitu?
• Wah, bukan main!
• Hati-hati, ya, nanti jatuh.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya:
• Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
• “Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”
7. Tanda koma dipakai di antara
(i) nama danalamat,
(ii) bagian-bagianalamat,
(iii) tempatdantanggal,dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
Surabaya, 10 mei 1960
Kuala Lumpur, Malaysia

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
Rp12,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
13. Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.
c. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.
d. Tanda Titik Dua (:)
1 Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
• Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
• Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan
Misalnya:
• Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
• Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua
Sekretaris
Bendahara :
:
: Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan
b. Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu :
:
:
: Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30

3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

4. Tanda titik dua dipakai:
(i) di antara jilid dan nomor halaman,
(ii) Di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) Di antara judul dan anak judul suatu karangan,
(iv) Di antar nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
Tempo (1971), 34:7
Surah Yasin:9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.
e. Tanda Hubung (–)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada ju-
ga cara yang baru.
Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
 Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ….
atau
 Beberapa pendapat mengenai masalah
itu telah disampaikan ….
bukan
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disampaikan ….
 Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
beranjak …
atau
 Walaupun sakit, mereka tetap tidak
mau beranjak
….
bukan
Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-
u beranjak ….
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
 Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
 Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
 Senjata ini merupakan alat pertahan-
an yang canggih.
Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.
Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
• ber-evolusi
• dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
• tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
• be-revolusi
• dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)
• tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai denganhuruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan –an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata,
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an
f. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.
Misalnya:
1910—1945
tanggal 5—10 April 1970
Jakarta—Bandung
Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.
g. Tanda Elipsis (…)
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
• Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.
2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
• Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ….
h. Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.
Misalnya:
• Kapan ia berangkat?
• Saudara tahu, bukan?
2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:
• Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
• Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
i. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
• Alangkah seramnya peristiwa itu!
• Bersihkan kamar itu sekarang juga!
• Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!
• Merdeka!
j. Tanda Kurung ((…))
1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
• Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

2.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:
• Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
• Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
• Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
• Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
• Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
k. Tanda Kurung Siku ([...])
1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya:
• Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
• Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.
l. Tanda Petik (“…”)
1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
• “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
• Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.”
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
• Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
• Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
• Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

3.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
• Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
• Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
• Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
• Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “Si Hitam”.
• Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

m. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
• Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
• “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Misalnya:
• feed-back ‘balikan’
n. Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986
2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
dikirimkan lewat darat/laut (dikirimkan lewat darat atau laut)
harganya Rp25,00/lembar (harganya Rp25,00 tiap lembar)

o. Tanda Penyingkat (Apostrof) (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
1 Januari ’88 (’88 = 1988)

BAB II
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Ejaan adalah kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
2. Ejaan bahasa Indonesia pertama kali adalah Ejaan van Ophuilsen (nama seorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintahan belanda yang berkuasa pada saat itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun dan setelah itu diganti dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi pada tahun 1947 dan pada tanggal 16 Agustus 1972mulai diberlakukan ejaan yang ke tiga dalam sejarah bahasa Indonesia yaitu Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang merupakan penyempurna terhadap ejaan yang sebelumnya.
3. Ruang lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) meliputi lima aspek, yaitu:
a. Pemakaian Huruf yang membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu:
 Abjad
 Vokal
 Konsonan
 Pemenggalan
 Nama Diri
b. Penulisan Huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi:
 Huruf kapital
 Huruf miring
c. Penulisan Kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya yang meliputi:
 kata dasar
 kata turunan
 kata ulang
 gabungan kata
 kata ganti kau, ku, mu, dan nya
 kata depan di, ke, dan dari
 kata sandang si dan sang
 partikel
 singkatan dan akronim
 angka dan lambang bilangan
d. Penulisan unsur serapan menbicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kata yang berasal dari bahasa asing.
e. Pemakaian tanda baca (pungtuasi) membicarakan teknik penerapan tanda baca dalam penulisan dengan kaidahnya masing-masing. Tanda baca itu adalah:

 tanda titik (.)
 tanda koma (,)
 tanda titik koma (;)
 tanda titika dua (:)
 tanda hubung (-)
 tanda pisah (─)
 tanda elips (…)
 tanda tanya (?)
 tanda seru (!)
 tanda kurung ((…))
 tanda kurung siku ([...])
 tanda petik ganda (“…”)
 tanda petik tunggal (‘…’)
 tanda garis miring (/)
 tanda penyingkat (‘)

Saran

1. Pergunakanlah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku.
2. Biasakanlah berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan.
3. Teruslah selalu menggali keilmuan dan pengetahuan dalam segala hal.
4. Ambillah hikmah dari setiap kejadian yang kita alami agar kita bisa lebih bijak dalam menghadapi hidup ini.
5. Teruslah untuk selalu haus akan pengalaman dan pembelajaran, karena itu semua akan membawa kita kepada sebuah kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
6. Coba kita renungkan Hadits Rasulullah SAW. Yang berbunyi :
“ Jadilah Orang yang berilmu atau orang yang belajar Ilmu atau orang yang mendengarkan terhadap Ilmu atau orang yang cinta terhadap ilmu dan janganlah sekali-kali kamu termasuk kelompok yang kelima (yaitu orang yang tidak berilmu, yang tidak belajar ilmu, yang tidak mendengarkan terhadap ilmu, serta orang yang tidak cinta dengan ilmu ) niscaya akan celaka.” (al Hadits ).

DAFTAR PUSTAKA

Suparni, Dra.,Bahasa dan Sastra Indonesia, Kurikulum 1994, Jilid I, Aditya, Bandung, 2000.
Keraf Goris, Dr., Komposisi Bahasa Indonesia, Nusa Indah, Endah, Flores, 1970.
Asep Ganda Sadikin, Drs., Bahasa Indonesia Untuk SLTP Kelas III, PT. Pribumi Mekar, Jakarta, 1999.
Internet, http://www.mahmud-bahasasastra.blogspot.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: